{"id":219,"date":"2020-04-03T00:51:51","date_gmt":"2020-04-03T00:51:51","guid":{"rendered":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/?p=219"},"modified":"2020-04-03T00:54:03","modified_gmt":"2020-04-03T00:54:03","slug":"tahapan-penyusunan-rancangan-peraturan-perundang-undangan","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/?p=219","title":{"rendered":"Tahapan Penyusunan Peraturan Perundang-undangan"},"content":{"rendered":"<p><iframe title=\"Penyusunan Peraturan Perundang undangan\" width=\"640\" height=\"360\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/1CJFyNRP_94?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Berdasarkan Pasal 20 ayat (1) <strong><a style=\"color: #000000\" href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/pusatdata\/detail\/lt4ca2eb6dd2834\/nprt\/lt49c8ba3665987\/uud-undang-undang-dasar-1945\"><span style=\"color: #000000\"><span style=\"color: #ff0000\">Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945<\/span><\/span><\/a><\/strong>, kekuasaan untuk membentuk Undang-Undang (\u201cUU\u201d) ada pada Dewan Perwakilan Rakyat (\u201cDPR\u201d). Selanjutnya, di dalam Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 <\/span><span style=\"color: #000000\">diatur bahwa setiap Rancangan Undang-Undang (\u201cRUU\u201d) dibahas oleh DPR dan presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Proses pembentukan UU diatur dalam <span style=\"color: #ff0000\"><strong><a style=\"color: #ff0000\" href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/pusatdata\/detail\/lt4e573e59d0487\/node\/21\/uu-no-12-tahun-2011-pembentukan-peraturan-perundang-undangan\">Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan<\/a><\/strong> <strong>(\u201cUU 12\/2011\u201d)<\/strong><\/span> sebagaimana yang telah diubah dengan <strong><a style=\"color: #000000\" href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/pusatdata\/detail\/lt5da039a94937f\"><span style=\"color: #ff0000\">Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan<\/span><\/a><span style=\"color: #ff0000\"> (\u201cUU 15\/2019\u201d)<\/span><\/strong>. Selain itu, proses pembentukan UU juga diatur dalam <span style=\"color: #ff0000\"><strong><a style=\"color: #ff0000\" href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/pusatdata\/detail\/lt53fefb3850a2a\/undang-undang-nomor-17-tahun-2014\">Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah<\/a> (\u201cUU MD3\u201d) <\/strong><\/span>dan perubahannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) UU 12\/2011, materi muatan yang harus diatur melalui UU adalah:<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><span style=\"color: #000000\">pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan UUD 1945;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">perintah suatu UU untuk diatur dengan UU;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">pengesahan perjanjian internasional tertentu;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; dan\/atau<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">pembentukan peraturan perundang-undangan melalui tahapan yang panjang. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan pertama-tama harus dengan melakukan perencanaan, atas dasar hukum yang lebih tinggi serta aspirasi dan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan dilakukan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Rancangan peraturan perundang-undangan yang diusulkan eksekutif dan legislatif\u00a0 di bahas bersama-sama di dalam Rapat Komisi, Rapat Badan Legislasi, Rapat Badan Anggaran, Rapat Panitia Khusus, dan Paripurna.. Setelah rancangan undang-undang disetujui oleh legislatif, rancangan undang-undang tersebut diberikan kepada legislatif untuk disahkan menjadi undang-undang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Secara Garis Besar\u00a0 berikut tahapan yang harus dipenuhi dalam pembentukan undang-undang:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><span style=\"color: #000000\">Perencanaan Peraturan Perundang-Undangan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Perencanaan untuk penyusunan undang-undang dilakukan dalam Program Legislasi Nasional yang merupakan skala prioritas untuk pembentukan UU dalam rangka mewujudkan sistem hukum nasional. Selanjutnya undang-undang dapat diajukan berasal dari eksekutif ataupun legislatif.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><span style=\"color: #000000\">Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Undang-Undang.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Pembahsan tentang RUU ini dilakukan oleh eksekutif dengan legislatif. Rancangan undang-undang yang telah disepakati bersama oleh legislatif dan eksekutif diajukan oleh legislatif kepada eksekutif untuk disahkan menjadi undang-undang.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><span style=\"color: #000000\">Pengundangan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Peraturan perundang-undangan harus disahkan secara resmi dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara\u00a0 Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><span style=\"color: #000000\">Penyebarluasan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Penyebarluasan dilakukan oleh DPR Pemerintah sejak penyusunan Prolegnas, Penyusunan\u00a0 Rancangan Peraturan Perundang-Undangan, Pembahasan Peraturan Perundang-Undangan, hingga Pengundangan Undang-Undang. Penyebarluasan dilakukan untuk memberikan informasi dan\/atau memperoleh masukan masyarakat serta pemangku kepentingan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"color: #000000\">Berdasarkan tahapan tersebut, secara lebih detail proses pembentukan undang-undang sebagai berikut:<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><span style=\"color: #000000\">Perencanaan penyusunan UU dilakukan dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) yang disusun oleh DPR, Dewan Perwakilan Daerah (\u201cDPD\u201d), dan pemerintah untuk jangka menengah dan tahunan berdasarkan skala prioritas pembentukan RUU. Lihat Pasal 16 UU 12\/2011 <em>jo. <\/em>Pasal 20 ayat (1) dan (2) UU 15\/2019<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">RUU dapat berasal dari DPR, presiden, atau DPD. Lihat Pasal 163 ayat (1) UU MD3<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">Setiap RUU yang diajukan harus dilengkapi dengan naskah akademik, kecuali untuk RUU anggaran pendapatan dan belanja negara, RUU penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (\u201cPerpu\u201d) menjadi UU, serta RUU pencabutan UU atau pencabutan Perpu. Llihat Pasal 43 ayat (3) dan (4) UU 12\/2011<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">RUU dari DPR diajukan oleh anggota DPR, komisi, gabungan komisi, atau Badan Legislasi. Lihat Pasal 164\u00a0 ayat (1)<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">RUU yang diajukan oleh presiden diajukan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR dan usulannya berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Lihat Pasal 165 UU MD3<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">Materi muatan RUU yang diajukan oleh DPD serupa dengan yang dapat diajukan oleh presiden yang telah diterangkan di atas. RUU tersebut beserta naskah akademiknya diajukan secara tertulis oleh pimpinan DPD kepada pimpinan DPR. Lihat Pasal 166 ayat (1) dan (2) UU MD3<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">Selanjutnya RUU ditindaklanjuti dengan dua tingkat pembicaraan. Lihat Pasal 168 UU MD3<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\"><em>Pembicaraan tingkat I<\/em> dilakukan dalam rapat komisi, rapat gabungan komisi, rapat Badan Legislasi, rapat Badan Anggaran, atau rapat panitia khusus. Lihat Pasal 169 huruf a UU MD3<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">Kegiatan dalam pembicaraan tingkat I meliputi pengantar musyawarah, pembahasan daftar inventarisasi masalah, dan penyampaian pendapat mini. Lihat Pasal 170 ayat (1) UU MD3<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\"><em>Pembicaraan tingkat II<\/em> dilakukan dalam rapat paripurna DPR yang berisi:\u00a0\u00a0\u00a0 Lihat Pasal 171 ayat (1) UU MD3<\/span>\n<ol>\n<li><span style=\"color: #000000\">penyampaian laporan yang berisi proses, pendapat mini fraksi, pendapat mini DPD, dan hasil pembicaraan tingkat I;<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">pernyataan persetujuan atau penolakan dari tiap-tiap fraksi dan anggota DPR secara lisan yang diminta oleh pimpinan rapat paripurna; dan<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">pendapat akhir presiden yang disampaikan oleh menteri yang ditugaskan.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">Bila tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah mufakat, keputusan diambil dengan suara terbanyak. Lihat Pasal 171 ayat (2) UU MD3<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">RUU yang telah mendapat persetujuan bersama DPR dengan presiden diserahkan kepada presiden untuk disahkan menjadi UU dengan dibubuhkan tanda tangan, ditambahkan kalimat pengesahan, serta diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Lihat Pasal 72 ayat (1) dan Pasal 73 ayat (1), (3), dan (4) UU 12\/2011<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000\">Apabila pembahasan RUU telah memasuki pembahasan daftar inventarisasi masalah pada periode masa keanggotaan DPR saat itu, hasil pembahasan RUU tersebut disampaikan kepada DPR periode berikutnya dan berdasarkan kesepakatan DPR, presiden, dan\/atau DPD, RUU tersebut dapat dimasukkan kembali ke dalam daftar Prolegnas jangka menengah dan\/atau Prolegnas prioritas tahunan. Lihat Pasal 71A UU 15\/2019<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berdasarkan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kekuasaan untuk membentuk Undang-Undang (\u201cUU\u201d) ada pada Dewan Perwakilan Rakyat (\u201cDPR\u201d). Selanjutnya, di dalam Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diatur bahwa setiap <a href=\"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/?p=219\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":267,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,8],"tags":[],"class_list":["post-219","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized","category-materi-perkuliahan"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/219","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/267"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=219"}],"version-history":[{"count":14,"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/219\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":233,"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/219\/revisions\/233"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=219"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=219"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/eriton.staff.unja.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=219"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}